History

Lahirnya Binawarga
GKI SW Jabar pada tahun 1972 mengambil prakarsa untuk mendirikan pusat pembinaan warga jemaat di km 77 Cipayung yang dinamai BINAWARGA. Dua orang pakar ditempatkan di Cipayung untuk menghidupkan pusat ini, yaitu Pdt. Andar Ismail dan Pdt. A, van der Waal. Pada waktu itu diharapkan keluarga, jemaat dan kelompok-kelompok datang dan belajar tentang tema-tema yang kontekstual dan relevan di wisma Cipayung. Namun ternyata idealisme dan kerja keras kedua pakar tersebut belum berhasil untuk membuat pusat ini mencapai misinya. Kebanyakan jemaat belum tertarik untuk datang dan belajar atas inisiatifnya sendiri. Akhirnya kedua pakar tadi mutasi ke pelayanan lain dan Binawarga Cipayung difungsikan hanya sebagai wisma untuk kegiatan camp atau retret saja yang tanggung jawab pengelolaannya diserahkan kepada bapak Ardy. 
 
Binawarga sebagai pusat bina eksis kembali
Pada tahun 1989 Binawarga dihidupkan kembali sebagai suatu lembaga pembinaan sejak kembalinya Pdt Robby I Chandra dari studi di Oregon, USA. Pada saat itu Binawarga belum memiliki kantor, masih bergabung di kantor Sinode GKI SW Jabar di jalan Garuda, sebab belum ada staf yang lain. Sementara itu di berbagai jemaat dan klasis sudah memiliki materi-materi bina yang dikembangkan oleh para konseptor bina.

Pada tahun 1990 Binawarga menyewa ruko di daerah Kayu Putih dan mulai merekrut beberapa staf di antaranya Sdri. Melani dan Tuty yang baru lulus dari sekolah Tinggi Theologia Dutawacana, Jogja. Mulailah Pdt Robby dan staf memberikan pembinaan dengan cara mendatangi jemaat-jemaat yang butuh pembinaan atau mendorong jemaat mengirim utusannya untuk dibina dalam program Binawarga (come & go structure). Sementara melayani kebutuhan bina jemaat, Binawarga membuat dan mengembangkan materi untuk mengisi jalur-jalur KPMS (Konsepsi Pembinaan Menyeluruh dan Sinambung) lihat lampiran tentang KPMS. Kekhasan dalam pelatihan Binawarga pada waktu itu adalah tekanan tinggi pada aspek aplikasi dan praktika.

Seiring dengan banyaknya permintaan pembinaan bagi jemaat-jemaat, dan juga sekolah BPK Penabur, staf/karyawan Ukrida, maka kemudian staf Binawarga berkembang dari jumlah 6 orang menjadi 12 orang. Kantor pun sempat pindah ke daerah Pulo Asem, sampai tahun 1994 Binawarga bisa menempati ruko milik sendiri di daerah Kalimalang, Bekasi atas bantuan Ukrida. Selain itu wisma Binawarga di Cipayung yang semakin tua juga kemudian direnovasi secara bertahap, mulai dari tahun 1998 pengurus Binawarga di bawah pimpinan Bpk Ichsan Gunawan memutuskan untuk membongkar kompleks hunian yang semula berbentuk bangsal menjadi hunian yang lebih sesuai dengan tuntutan pemakai wisma, kemudian ruang makan ‘disulap’ menjadi lebih sejuk, serta aula dipoles di sana sini. Seiring dengan perubahan fisik, manager wisma juga beralih kepada sdr Jatmiko, sebab Pak Ardy sudah pensiun. 

Perkembangan terakhir Binawarga
Sejak tahun 2000 Pak Robby ( sekarang Pdt. DR. Robby I. Chandra, D.Min., MA.Th., MA.) sudah diinformasikan akan ditarik Sinode untuk memimpin badan baru di lingkup Sinodal juga, maka mulailah Pdt. Robby menyiapkan lebih khusus kader yang akan menggantikannya yaitu Sdr. Melani ( sekarang Pdt. Melani Ayub Egne, M.Pd) yang sejak Januari 1991 sudah bergabung di Binawarga dan sudah mengenal seluk beluk Binawarga sejak dari awal pertumbuhannya.

Sejak Januari 2001 sdri. Melani menjalani masa perkenalan di GKI Agus Salim Bekasi untuk diproses lebih jauh sebagai penatua khusus. Sementara serah terima jabatan dilakukan per April 2001 dari Pdt. Robby Chandra ke sdri. Melani sebagai pejabat sementara direktur Binawarga di bawah kepengurusan Binawarga yang diketuai oleh Pdt. Suatami Sutedja (sekarang Pdt. Em. Suatami Sutedja). Baru setelah penahbisan Pdt. Melani pada tanggal 17 Maret 2002 beliau diangkat sebagai direktur Binawarga. Pada tahun 2002 juga bagian belakang wisma Binawarga direnovasi sehingga kapasitas ruang tidur bertambah sekitar 15 orang, gerbang masuk diperindah. Pada tahun 2004 lalu dapur direnovasi secara bertahap, mengganti kasur busa menjadi spring bed supaya lebih nyaman, serta dilakukan pengaspalan halaman Binawarga agar terlihat rapih dan bersih. 

Perekrutan orang baru
Seiring dengan mutasi Pdt. Robby Chandra ke BBP, 6 (enam) orang staf Binawarga juga keluar, seorang pindah ke Kanada, satu orang pindah ke YLI (Yuana Lestari Indonesia), dan satu orang ke LSM Internasional di Bandung, kemudian satu tahun kemudian seorang staf training memutuskan untuk studi lanjut, satu orang menjadi guru BPK Penabur, seorang lagi pindah kerja. Maka pada tahun-tahun awal kepemimpinan Pdt. Melani Ayub Egne, M.Pd energi dan perhatian habis untuk merekrut orang-orang baru guna mengisi kekosongan yang ada, sekaligus melatih dan memberdayakan mereka di bidang pelayanan masing-masing, serta membentuk tim yang solid yang sebagian besar terdiri dari orang-orang muda yang penuh semangat dan kreativitas.

Harapan untuk mendapat tambahan fulltimer di Binawarga untuk mendampingi Pdt. Melani Ayub Egne, M.Pd akhirnya terwujud ketika Pdt. Dianawati S Yuwanda, M.Min menyatakan diri bersedia menjadi Pdt. Tugas Khusus di Binawarga, setelah menanti empat tahun lamanya.

Per Mei 2009 Pdt. Dianawati S. Yuwanda kembali menjadi pdt jemaat di GKI Nurdin yang sangat membutuhkan kehandalannya sebagai gembala.

Kerinduan Binawarga di masa depan 
Setelah kurang lebih 18 tahun pelayanan, jumlah staf yang menangani berbagai pelatihan dan penerbitan buku-buku binawarga masih belum memadai mengingat besarnya kebutuhan yang ada. Karena itu harapannya binawarga dapat menambah dan memperkuat SDM per divisi pelayanan dengan tim-tim yang handal di bidangnya seperti anak, remaja / pemuda, dan lainnya. Untuk itu sudah mulai disusun rencana pembentukan PUSDIKLAT yang lebih besar yang cakupannya lebih luas, tidak hanya gereja tetapi juga dalam pendidikan. Kiranya proses menuju Binawarga yang diperluas dapat berjalan dengan lancar.

Akhirnya biarlah Binawarga dapat menjadi berkat bagi lebih banyak pihak dan nama Tuhan dipermuliakan melaluinya.